ditam08's blog


buah pedada
Saturday June 19th 2010, 7:59 am
Filed under: Academic

ernah nonton Wisata Kuliner (WK) di TRANSTV? Pasti! Acara itu, akhir-akhir ini memang sangat populer di masyarakat kita. Kurang lebih, WK menampilkan berbagai ragam makanan, jajanan, dan minuman dari Indonesia dan manca negara. Acara yang menarik! Sebagai orang yang berkecimpung di mangrove, saya kadang membayangkan, andaikan saja panganan dari mangrove, bisa diliput dan ditampilkan di acara itu, pastilah bisa mendongkrak popularitasnya.

Namun sayang, jangankan untuk bisa ditayangkan, produksi massalnya saja, belum bisa dilakukan. Memang, panganan berbahan baku buah mangrove, belum bisa dikomersialkan, karena banyaknya kendala teknis dan non teknis.

Untuk mulai mempopulerkan panganan dari mangrove, sambil menunggu perkembangannya, beberapa tahun ke depan, berikut ini saya tampilkan resep mangrove bernama Dodol Pedada (Sonneratia). Panganan ini enak sekali, karena legit, manis dan terasa sensasi pasir, begitu kita menikmatinya.

Resep panganan ini saya cuplik dari sebuah buku yang berjudul Resep Panganan Dari Tumbuhan Mangrove yang disunting oleh Tengku L. Hakim dan Bunga Saraswati, terbitan Mangrove Action Project (MAP) Indonesia dan Pusat Studi Asia Pasifik (PSAP) Universitas Gadjah Mada (UGM ), Yogyakarta.

Selamat mempraktekkan dan menikmati lezatnya dodol berbahan dasar buah mangrove bernama Pedada yang buahnya bisa Anda lihat pada gambar di atas.

Dodol Pedada
Bahan
1.1 bungkus tepung beras
2.¼ kg tepung ketan
3.1 ½ kg gula merah
4.2 butir kelapa
5.8 buah pedada

Cara membuat
1.Blender daging pedada, lalu saring dan ambil airnya saja.
2.Campur tepung beras dan ketan, lalu aduk dengan air santan hingga rata, masukkan gula merah yang sudah dicairkan lalu masak adonan hingga mengental.
3.Bisa dibentuk cetakan sesuai selera. Setelah dingin, siap dihidangkan.



Saturday June 19th 2010, 7:45 am
Filed under: Academic

Produk hasil olahan tuna Indonesia sekarang menjadi salah satu yang terbaik di dunia,” kata President Anova Food Group, Blane Olson, di Manado, Kamis.

Kondisi tersebut, menurut dia, jauh berbeda dibanding 10 hingga 15 tahun lalu, dimana produk olahan tuna Indonesia masih banyak memiliki kekurangan.

Dibutuhkan, waktu yang sangat lama hingga 15 tahun untuk membuat industri pengolahan perikanan di Indonesia menjadi baik seperti sekarang ini, ujar dia.

Namun demikian, ia mengatakan, memberikan nilai tambah pada produk perikanan dengan mengolah ikan segar menjadi sebuah produk jauh lebih baik ketimbang menjualnya dalam bentuk utuh.

“Akan lebih baik memberikan nilai tambah dari pada hanya memindahkan ikan dari satu daerah ke daerah lain, selain itu akan mengurangi kualitas ikan, harga jual pun akan turun,” ujar dia.

Sementara itu, terkait dengan ketersedian stok tuna di Indonesia maupun di dunia, Olson mengatakan, saat ini sangat menurun tajam.

“Lima tahun lalu setiap hari adalah surga bagi nelayan. Sekarang tujuh hari dalam satu bulan saja itu sudah baik,” ujar dia.

Tahun 2009, menurut dia, sebenarnya merupakan tahun yang baik bagi penangkapan tuna. Berbeda dengan tahun 2008 lalu yang hasil tangkapannya merisaukan pemilik industri pengolahan tuna.

Ia menambahkan, penangkapan tuna dengan menggunakan kail justru menghasilkan tangkapan banyak ketimbang dengan menggunakan long line.

“Kami sangat mendukung nelayan yang menangkap dengan kail. Selain volumen tangkapan lebih banyak, kualitasnya pun jauh lebih baik,” tambah Olson.

Perusahaan makanan miliknya saat ini membeli tuna segar dan beku (steak tuna) dari Bali, Makasar, dan Jakarta, untuk diekspor ke Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE).

“Sebanyak 80 persen tuna yang diolah diekspor ke Amerika dan 20 persen diekspor ke Uni Eropa,” ujar dia.

Hal yang perlu tetap diperhatikan oleh perusahaan pengolahan produk perikanan di Indonesia adalah bahwa produknya memiliki “certificated sustainable seafood product”.

Menurut dia, konsumen di AS dan UE kini semakin kritis dalam mengkonsumsi produk perikanan. Mereka akan menanyakan dari mana asal produk ikan yang akan dikonsumsi.



Saturday June 19th 2010, 7:26 am
Filed under: Academic

Pembaca sekalian,
Tidak terasa sudah hampir satu
tahun kami mengunjungi pembaca
melalui edisi Infopom yang hadir
setiap bulan. Di bulan Syawal ini
kami ingin mengucapkan Selamat
Hari Raya Idul Fitri 1424 H. Mohon
Maaf Lahir dan Batin.
Pangan secara umum bersifat
mudah rusak sehingga memiliki
daya simpan yang relatif pendek.
Untuk memperpanjang daya
simpan atau membuat lebih awet,
dapat dilakukan antara lain dengan
pemberian bahan pengawet.
Permasalahannya apakah bahan
pengawet yang ditambahkan cukup
aman dikonsumsi ?
Penemuan obat baru untuk
menangani infeksi HIV sangat
membantu bagi para penderitanya,
sebagaimana telah disetujuinya
persetujuan peredaran efuvirtide
oleh FDA Amerika.
Untuk edisi Desember ini kami
sajikan artikel mengenai bahan
pengawet pangan dan persetujuan
terhadap efuvirtide sebagai anti HIV
baru oleh FDA.
Semoga bermanfaat
R e d a k s i
angan secara umum bersifat
mudah rusak (perishable)
sehingga memiliki daya
simpan yang relatif pendek. Daya
simpan pangan yang dapat juga
mencerminkan daya gunanya
sangat tergantung dari karakteristik
yang dimiliki pangan tersebut. Kadar
air dari pangan terutama air bebasnya
merupakan faktor utama penyebab
kemudah-rusakan dari pangan
tersebut. Semakin tinggi kadar air
pangan , maka akan semakin besar
kemungkinan kerusakannya baik
sebagai akibat aktivitas biologis
internalnya (metabolisme)
maupun masuknya mikroba
perusak. Pengetahuan tersebut
menuntun manusia dalam upaya
memperpanjang daya simpan
atau membuat lebih awet pangan
dengan menurunkan kadar air
pangan melalui berbagai cara
antara lain pengeringan, pemberian
bahan / senyawa yang dapat
mengikat air bebas atau membunuh
mikroba perusak, dan upaya lain
berkenaan dengan pembatasan
aktivitas biologis pangan maupun
mikroba perusaknya. Permasalahan
atau pertanyaan yang timbul
kemudian adalah apakah proses
pengawetan, bahan pengawet yang
ditambahkan ataupun produk awet
yang dihasilkan aman dikonsumsi
manusia ?
Pengawet dan
Pengawetan Pangan
Pengawetan pangan memiliki dua
maksud yaitu menghambat
pembusukan dan menjamin mutu
awal pangan agar tetap terjaga
selama mungkin. Penggunaan
pengawet dalam produk pangan
dalam prakteknya berperan
sebagai anti mikroba atau anti
oksidan atau keduanya. Jamur,
bakteri dan enzim sebagai penyebab
pembusukan pangan perlu dihambat
pertumbuhan maupun aktivitasnya.



Friday June 18th 2010, 6:44 pm
Filed under: Academic

<a href=”http://www.ipb.ac.id” title=”IPB Badge by:Wahyu Dwi Suryanto”><img src=”http://ipb.ac.id/badge/img/201006166262638ipblove.png” alt=”IPB Badge” width=”200″ height=”200″/></a>



Friday June 18th 2010, 6:41 pm
Filed under: Academic

kampusku bersih

kampusku nyaman

cinta selalu

ipb



Friday June 18th 2010, 6:38 pm
Filed under: Academic

slamat datang di ipb

kampus tercinta